Tito Karnavian Berharap Pilkada Serentak 2020 Lahirkan Pemimpin Kuat Tangani Covid-19 dan Dampaknya

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian

Jakarta, halKAhalKI.com | Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memahami jika ada kekhawatiran, pemilihan kepala daerah serentak di tengah pandemi Covid-19, bisa jadi media penularan. Namun menurutnya, isu itu mungkin bisa dibalik, lewat Pilkada diharapkan bisa lahir atau terpilih pemimpin daerah yang kuat. Pemimpin kuat yang bisa menangani Covid-19 dan dampak ekonomi sosialnya. Karena saat pandemi, diperlukan pemimpin yang kuat, yang bisa menangani Covid-19 dan dampak sosial ekonominya secara efektif.

" Mungkin ada kekhawatiran penularan Covid-19 karena adnya Pilkada, harusnya kita balik. Kita balik mari sama-sama kita teman media mainstream angkat isu dalam konsestasi Pilkada 2020 adalah isu tentang efektivitas daerah dalam menangani Covid-19 dan dampak sosial ekonominya. Kalau isu ini berhasil kita angkat ramai-ramai seperti yang terjadi di Korsel dan beberapa negara lain maka justru tingkat partisipasi pemilih akan tinggi. Karena Covid-19 ini menuntut setiap orang, beda dengan keadaan kalau tak ada covid, ada yang perduli, ada yang tak perduli dengan Pilkada, kita memerlukan pemimpin daerah yang kuat yang bisa menangani Covid-19 dan dampak sosial ekonominya, " urai Mendagri di sela-sela acara rapat kerja tingkat I di DPR RI, di Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Di negeri Ginseng, Korea Selatan, kata Mendagri, tingkat partisipasi pemilu yang digelar kemarin, sangat tinggi. Tertinggi sejak tahun 1992. Pun, di Polandia, yang kemarin juga menggelar pemilihan presidennya. Tingkat partisipasi sangat tinggi. Padahal, baik Korsel maupun Polandia, oleh WHO dianggap sebagai negara yang terpapar pandemi Covid-19. Jadi, Indonesia pun yang akan menggelar Pilkada mesti optimistis.

" Kita angkat isu masalah efektivitas penanganan Covid-19 ini oleh daerah beserta dampak sosial ekonominya. Biarkan para konsestan adu gagasan, petahana harus berbuat karena punya power, punya sumber daya. Sedangkan non petahana bisa memainkan isu atau gagasan bagaimana menangani Covid. Nah ini justru akan bisa mempercepat penanganan Covid karena para petahana akan berusaha mati-matian untuk menekan kurvanya sehingga turun, kalau kurvanya naik korbannya meninggal banyak, saya feeling masyarakat mungkin tidak memilih, "katanya.

Namun bukan berarti, dirinya sebagai Mendagri mengarahkan agar jangan memilih atau memilih calon tertentu. Karena masyarakat yang akan menilai dan menentukan. Ia hanya menekankan tentang adu gagasan dan program penanganan Covid-19 dalam Pilkada nanti.

" Calon pemimpin atau calon kepala daerah yang mampu melakukan manajemen dengan baik sehingga covid-nya menurun, tingkat kematian menurun, positifnya menurun, akan mendapatkan apresasi dari rakyat. Nah apakah petahana diuntungkan? Tidak juga, kalau dia tidak bisa menangani akan beresiko. Sebaliknya kontestan yang non petahana dia bisa menjual gagasan-gagasan dia. Kita berharap dengan adanya pertandingan gagasan dan berbuat ini maka terjadi kurva penurunan di daerah. Ini juga kemudian bisa "menegasikan" isu-isu yang selama ini primordial. Masalah suku, agama, ras ini menjadi tertekan, karena masyarakat lebih peduli kepada Covid dibandingkan isu-isu itu, " urai Mendagri.

Selanjutnya 1 2 3