Koramil 06 Bohorok Bantu Korban Angin Puting Beliung Timbang Lawan

Danramil 06 Bahorok,Kapt Inf Joni Siagian saat menyerahkan bantuan sembako yang diterima Amru Kepala Desa Timbang Lawan mewakili warga.

Langkat, halKAhalKI.com | Angin Puting Beliung rusak sembilan rumah,satu rumah roboh.Hal ini terjadi di Desa Timbang Lawan Kecamatan Bohorok Kabupaten Langkat Sabtu,26/8/2017.Angin kencang yang datang sekitar pukul 18.00, "cukup singkat dan hanya melintas saja", sebagaimana dituturkan Abdul Munir (58) warga Dusun 8 Desa Timbang Lawang yang mengaku menyaksikan peristiwa tersebut kepada halKAhalKI.com.

"Awalnya angin berwarna putih mirip semburan air garam namun tiba-tiba berubah berwarna hitam seakan menyapu bersih jalur lintasannya,sangat kencang dan cepat seakan tidak kuasa di ikuti oleh mata mungkin di barengi takut dan rasa ngeri. Dalam hitungan detik saja beberapa rumah tetangga tertimpa pohon yang ada di sekitar rumah",kata Munir menambahkan.

Dari bebepa sumber di desa tersebut yang di kumpulkan halKAhalKI.com menyebutkan angin berasal dari pintu gua angin kawasan gunung kapur (Angin Bahorok-red).Lintasan angin tersebut mengakibatkan beberapa pohon seperti pohon karet,durian dan kelapa sawit di perkebunan warga di kawasan Sungai Landak dan Salang Pangeran roboh.Telah lama angin Bohorok tidak turun,terakhir sekira tahun 1997 yang melanda wilayah Langkat Hulu dan mengakibatkan pepohonan roboh dan rumah warga yang rusak.Saat itu PT PP Lonsum dan PT PN II mengalami kerugian dikarenakan rusaknya tanaman perkebunaan.





Menurut salah seorang warga Dusun 8 Desa Timbang Lawan yang rumahnya roboh terkena hantaman angin puting beliung Syamsul Arifin (37) saat ditemui di reruntuhan rumahnya.Syamsul Arifin menyatakan tidak menduga rumahnya akan terkena bencana."Saat kejadian Istri baru selesai mandi sore dan anak kembarku yang berumur 10 tahun ada didalam rumah,sedang saya di seberang mengembalakan kerbau,Karena tidak ada pepohonan di sekitar rumah,sekejab saja rumahku ambruk ke tanah.Tujuh tahun mendiami rumah gubuk berukuran 6 X 8 M kini tinggal puingnya" tutur Arifin dengan sedih yang sehari hari bekerja mengandalkan kerbaunya sebagai sebagai angkutan hasil pertanian dan perkebunan warga sekitarnya.

Selanjutnya 1 2