Oleh: Koordinator Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi, Muslim Arbi
Proyek KCJB (Kereta Cepat Jakarta-Bandung) kerjasama Konsorsium Indonesia – China sedang berupaya merampungkan pekerjaannya. Meski saat ini belum juga rampung dan belum dapat beroperasi sesuai dengan tenggat waktunya. Karena terjadi nya pembengkakan biayai. Kini biayanya membengkak menjadi Rp.18 triliun.
Semula Proyek ini di tawarkan oleh Pengusaha Jepang dengan biaya Rp 90 triliun dengan suku bunga 0,1% dan grass periode 40 Tahun.
Tapi akhirnya disetujui oleh pemerintah berkerjasama dengan China untuk bangun KCJB. Kerjasama diikat dengan biaya: Rp.120 triliun, bunga 3,4 % dan Grass Periode nya 80 Tahun.
Jika di bandingkan dengan tawaran dari Jepang. Nilai kontrak dengan China ini sangat mahal; bunga tinggi dan waktu nya sangat panjang. Hampir 100 tahun: yakni 80 tahun.
Mengapa pemerintah tidak ambil kontrak dengan Jepang malah dengan China? Ini menjadi pertanyaan. Padahal dengan China begitu mahal? Siapa yang di untungkan dan ambil untung di sini? Sedang bangsa dan negara ketiban pulung?
