Dibutuhkan Kemampuan Pemimpin dalam Hadapi Krisis

Ilustrasi

Oleh: Reza Fadli Ibrahim Lubis

Ketika dihadapkan pada krisis, hal pertama yang dicari dan diharapkan adalah seorang pemimpin. 

Hal ini dikarenakan sosok pemimpin dianggap paling tahu bagaimana menyelesaikan masalah dan mengambil langkah-langkah yang harus diperlukan di tengah situasi krisis tersebut.

Itu sebabnya penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki keterampilan dan kemampuan dalam kepemimpinan krisi atau kemampuan untuk memimpin di bawah tekanan yang terjadi akibat krisis. apalagi di tengah situasi penuh ketidakpastian.

Munculnya virus corona atau CoronaVirus Disease 2019 (COVID-19) telah memporak porandakan tananan sosial berkehidupan di berbagai negara. COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-2.

Virus corona telah menggemparkan seluruh dunia. Kemunculannya pertama kali teridentifikasi di sebuah kota di Cina bernama Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019.23 Apr 2020. Penyebaran COVID-19 pada awalnya sudah dikategorikan sebagai epidemi karena virus tersebut sudah tersebar di wilayah Cina.

Namun seiring berjalannya waktu, COVID-19 saat ini tidak hanya menyerang Cina, namun banyak negara lain hampir diseluruh belahan dunia juga ikut terjangkit virus tersebut. Penyebaran COVID-19 yang sangat cepat di negara-negara lain, menjadikannya sebagai pandemi (global).

Penyebaran sangat cepat dan jumlah korbannya sangat dahsyat yang terus berlangsung sampai saat ini mengakibatkan lonjakan jumlah korban positif COVID-19.

Di tengah kondisi krisis ini, orang pertama yang dijadikan tumpuan harapan bagi masyarakat adalah seorang pemimpin. Sosok pemimpin diharapkan dapat mengetahui bagaimana mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami.

Pada saat seperti ini, para pemimpin berkesempatan untuk meningkatkan kompetensinya dalam menghadapi kondisi-kondisi krisis yang sedang sedang berlangsung. Hal tersebut dikarenakan dalam menghadapi pandemi ini, para pemimpin akan dihadapi oleh banyak tekanan dan hambatan dari berbagai pihak, sehingga seorang pemimpin mau tidak mau akan di asah kemampuannya dalam menghadapi hal-hal tersebut.

Mengutip pendapat Joseph W. Pfeifer dari tulisannya “Crisis Leadership: The Art of Adapting to Extreme Event”, sifat dari krisis selalu random, tidak terduga, dan baru. Contohnya adalah bencana alam, krisis ekonomi, teknologi yang mengganggu dan lain sebagainya.

Hampir dipastikan, setiap krisis yang terjadi tidak dapat diprediksi seberapa besar dampaknya. Pandemi COVID-19 saat ini dapat digolongkan kedalam sebuah extreme event yang sedang dihadapi oleh hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia.

Di tengah kemelutnya kondisi saat ini, dibutuhkan sosok pemimpin di levelnya yang memiliki keahlian dalam crisis leadershipCrisis leadership dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk membuat seluruh pihak beradaptasi dengan ketidakpastian dengan cara membuat titik tengah untuk melaksanakan perintah dan kontrol sehingga masing-masing pihak dapat berhubungan, berkolaborasi, dan berkoordinasi satu sama lain untuk menghasilkan nilai bagi masyarakat (Pfeifer, 2013).

Sedangkan secara umum, crisis leadership dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin saat menghadapi keadaan yang memiliki kesulitan atau berbahaya, dan bagaimana secara efektif dan efisien sosok pemimpin tersebut dapat menekan dampak buruk dari kondisi krisis tersebut terhadap organisasi yang dipimpinnya.

Kendala yang di hadapi pemimpin

Fisik

Kendala ini contohnya adalah terbatasnya tenaga medis yang mengakibatkan para dokter dan perawat harus bekerja lebih lama daripada biasanya, sehingga hal tersebut mengakibatkan kelelahan dan dampaknya adalah banyak tenaga medis yang ikut tertular bahkan gugur akibat COVID-19.

Pemimpin juga sebagai manusia harus merelakan jam tidurnya terpotong untuk mengawasi perkembangan sehingga akan mempengaruhi kesehatannya, dan hal tersebut tentu akan memberikan pengaruh dalam keputusan yang akan diambil di tengah kondisi krisis ini

Psikologis dan Kognitif

Ini terjadi pada kondisi psikologis dan kognitif para stakeholders dan pemerintah di levelnya sebagai pembuat keputusan. Mereka harus mengambil kebijakan dengan tenang dan tidak boleh terperangkap di dalam normalcy bias (bias kenormalan), yang menurut Kahneman (1982) adalah sebuah keadaan di mana sebuah masalah dianggap dapat diselesaikan melalui pengalaman masa lalu, sehingga pada akhirnya krisis dianggap sebagai sebuah rutinitas.

Interpersonal dan Sosial

Kendala ini jika tidak diredakan dengan baik akan mengakibatkan terhambatnya distribusi informasi. Pembuat keputusan dan manajemen cenderung untuk menjaga informasi hanya berada di internal organisasi sehingga kolaborasi yang diharapkan tidak dapat berjalan. Tentunya hal tersebut akan menjadi hambatan dalam kondisi krisis yang memerlukan banyak pihak yang terlibat.

Operasional

Ini terjadi terhadap kemampuan sebuah organisasi dalam bekerja yang didesak melebihi kapasitasnya saat krisis. Tidak sedikit pemimpin yang gagal dalam menafsirkan keterbatasan organisasinya dalam tiga hal berikut:

  • Kapabilitas: Kondisi krisis memerlukan skill yang lebih baik daripada kondisi sebelum krisis. Contohnya adalah pemerintah beserta jajarannya perlu memutar otak untuk membuat kondisi perekonomian di negaranya tetap terjaga ditengah kondisi pandemi Covid-19.
  • Kapasitas: Kondisi krisis mengharuskan tersedianya lebih banyak sumber daya daripada kondisi sebelumnya. Contohnya adalah sebagai garda terdepan dalam menghadapi COVID-19, tenaga medis sangat dibutuhkan keberadaannya.
  • Pengiriman: Kondisi krisis mendesak agar sumber daya lebih cepat disalurkan daripada kondisi sebelum krisis. Contohnya adalah penyaluran bantuan non tunai seperti sembako yang disalurkan oleh pemerintah dikarenakan masyarakat terhambat perekonomiannya sehingga bantuan tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Politik

Tekanan politik terhadap kepemimpinan seorang pemimpin dan pemerintahan. Hal tersebut sangat perlu diatasi karena tekanan ini tidak tampak secara jelas, namun terdapat banyak oknum yang menunggu kegagalan pemerintah sebagai sebuah momentum untuk mendapatkan modal politik dan simpati masyarakat.

Pemimpin (dalam levelnya) harus lakukan:

Komunikasi

Komunikasi merupakan hal terpenting dalam mengatasi kondisi krisis. Komunikasi perlu dilakukan secara teratur, dan selalu di-update setiap harinya, hal tersebut dilakukan agar memberikan ketenangan bagi orang-orang yang dipimpin.

Kejelasan

Kejelasan dimulai dengan memahami suatu kondisi atau permasalahan secara jelas, sampai bagaimana cara mengkomunikasikan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi kondisi atau permasalahan tersebut. Jika hal tersebut dilakukan dengan baik dan benar, maka kejelasan akan terbangun dengan sendirinya bagi orang-orang yang terlibat. Seperti yang diketahui manusia akan merasa khawatir, panik, dan takut jika dihadapkan pada ketidakjelasan atau sesuai yang tidak dapat mereka pahami.

Kepedulian

Para pemimpin dituntut untuk memiliki rasa peduli atau empati terhadap orang-orang yang dipimpinnya sehingga akan meningkatkan kepercayaan (trust) di bawah kepemimpinannya.

Komentar

Loading...