Oleh: Yakub F. Ismail
Beberapa hari terakhir ini berkembang narasi bahwa Partai Demokrat berada di balik mencuatnya isu mengenai dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Tidak jelas dari mana sumber valid yang menyebutkan kalau parpol berlogo mercy itu terlibat sebagai dalang di balik menyeruaknya isu ijazah palsu Jokowi ini.
Namun, dari informasi yang beredar, wacana ini muncul setelah Sekjen Peradi Bersatu sekaligus pelapor Roy Suryo dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, Ade Darmawan mengisyaratkan “partai biru” di balik kasus ijazah palsu tersebut.
Tentu masih spekulatif partai biru yang dimaksudkan Ade Derwawan ini. Apalagi, pihaknya tidak menyebutkan secara gamblang dan jelas partai biru mana yang dituding sebagai dalang itu.
Mengingat partai biru tidak hanya Demokrat, tapi juga PAN dan NasDem juga ada warna dominan birunya.
Kendati begitu, isyarat itu kuat dugaan tertuju pada Demokrat tak lain karena sosok yang dilaporkan (Roy Suryo) adalah orang yang pernah berkader sebagai anggota Demokrat.
Hal inilah yang membuat spekulasi liar ini mengerucut pada partai yang diketuai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini.
Selain itu, sebagian relawan Jokowi juga menuding bahwa Partai Demokrat berada di balik penyebaran isu tersebut.
Sayangnya, tudingan ini sama sekali tidak berdasar. Secara logis, sulit diterima bahwa Partai Demokrat menjadi dalang di balik isu ini.
Setidaknya terdapat dua alasan fundamental mengapa tuduhan ini sulit dicerna akal sehat: pertama, Demokrat memiliki rekam jejak sebagai parpol dengan etika politik yang tinggi; kedua, secara strategis, wacana semacam ini justru sangat merugikan Demokrat sendiri yang saat ini mulai kembali bangkit.
Etika Demokrat
Harus diakui bahwa Partai Demokrat adalah salah satu parpol yang memegang teguh prinsip etis dalam berpolitik.
Sejak didirikan pada tahun 2001, Partai Demokrat dibangun di atas fondasi moralitas politik yang kental, dengan menjunjung tinggi integritas, demokrasi, dan penghormatan terhadap hukum.
Parpol ini biar bagaimanapun terlahir dari rahim politik yang menuntut sebuah kejujuran dan keluruhan politik di tengah kebutuhan masyarakat akan alternatif kekuatan politik yang mengedepankan tata kelola pemerintahan terbuka, bersih dan transparan.
Karakter ini tampak jelas pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang terkenal luas sebagai figur pemimpin yang menjunjung tinggi “politik santun” dan menghindari gaya politik “adu domba”.
Karenanya, menuduh Demokrat sebagai aktor utama isu ijazah palsu Jokowi, selain tidak punya jejak historis, juga secara langsung bertentangan dengan nilai dasar partai Demokrat itu sendiri.
Demokrat memiliki track record panjang dalam mengedepankan politik rasional, berbasis data dan argumentasi, bukan serangan personal yang merendahkan martabat seseorang.
Tidak hanya itu, parpol ini bahkan dalam dinamika politik yang keras sekalipun, selalu menjunjung tinggi etika politik yang sehat.
Sebagai contoh, dalam kontestasi Pilpres 2019 maupun Pilpres 2024, Demokrat tidak pernah mengangkat isu-isu yang secara langsung atau tidak menyerang ranah privasi atau mengulik urusan personal kandidat secara tidak berdasar.
